Senin, 10 April 2017

Tugas Softskill - Gangguan Eksibisionistik

Nama   : Ellisa Ariningtyas     
NPM   : 13514510
Kelas   : 3PA11
Gangguan Eksibisionistik dan Terapi Penyembuhan

Gangguan eksibisionistik adalah salah satu gangguan kesehatan mental dimana seseorang menampilkan alat kelaminnya pada orang asing atau orang yang tidak menginginkannya dalam rangka pemuasan kebutuhan seksual. Ketika menunjukkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan eksibisionistik berfantasi tentang masturbasi atau melakukan masturbasi, namun tidak disertai usaha melakukan perilaku seksual dengan orang di hadapannya. Gangguan eksibisionistik lebih banyak terjadi pada laki-laki dan korbannya biasanya perempuan, baik anak di bawah umur maupun dewasa, yang sedang lengah. Jika tidak tertangani dengan baik, gangguan eksibisionistik dapat mengganggu kemampuan individu dalam relasi sosial dan relasi intimnya. Oleh karena itu, individu dengan gangguan eksibisionistik perlu mendapatkan bantuan psikologis professional untuk dapat mengelola gangguannya tersebut.

American Psychiatric Association (APA) menyebutkan bahwa gangguan eksibisionistik merupakan bagian dari parafilia. Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan kata lain, terdapat deviasi atau penyimpangan (para) dalam ketertarikan seseorang (filia). Fantasi, dorongan, atau perilaku seksual yang menyimpang harus berlangsung setidaknya selama 6 bulan dan menyebabkan distress atau hendaya yang signifikan sebelum dinyatakan sebagai diagnosa gangguan mental. Parafilia juga terkait dengan ketertarikan secara seksual pada individu atau obyek seksual yang tidak tepat atau tidak berdasarkan kesepakatan (non-consentual); serta perilaku seksual yang menyimpang dari norma sosial-budaya yang diakui dalam budaya secara umum.

Kriteria Gangguan eksibisionistik dalam DSM V adalah:
  1. Berulang, intens, dan terjadi selama 6 bulan, fantasi, dorongan, perilaku yang menimbulkan gairah seksual yang berkaitan dengan memamerkan alat kelamin kepada orang lain yang tidak dikenalnya yang tidak menduganya
  2. Orang yang bersangkutan bertindak berdasarkan dorongan tersebut, atau dorongan dan fantasi menyebabkan orang tersebut sangat menderita atau mengalami masalah interpersonal

Terapi Penyembuhan

Walaupun secara umum, prognosis (prediksi perkembangan gangguan) pada kasus penyimpangan seksual cenderung negatif atau dengan kata lain, sangat sulit untuk mencapai kesembuhan dengan arti kata sama sekali merubah penyimpangan. Namun ada beberapa usaha untuk mencegah kambuhnya perilaku penyimpangan seksual, terutama dalam rangka mencegah timbulnya korban atau penderitaan baik pada individu maupun orang lain. Komponen yang paling utama dibidik dalam program intervensi penyimpangan seksual adalah faktor kognitif. Program tersebut antara lain teknik-teknik kognitif yang bertujuan meluruskan distorsi keyakinan dan mengubah sikap yang tidak benar terhadap perempuan. Berbagai upaya terutama untuk meningkatkan empati mereka terhadap korbannya, manajemen kemarahan, berbagai teknik untuk meningkatkan harga diri dan upaya untuk mengurangi penyalahgunaan zat.
Dalam psikoterapi individual, individu dengan gangguan eksibisionistik diajarkan pendekatan coping dalam mengelola hasrat seksualnya yang mendesaknya untuk menampilkan alat kelaminnya ke orang lain. Dalam psikoterapi, individu diajak memetakan bagaimana emosi, pikiran dan distorsi kognitifnya dapat mengakibatkan dirinya melakukan perilaku seks menyimpang, serta bagaimana cara menghentikan alur proses yang menyimpang tersebut. Dalam psikoterapi individual, individu dengan gangguan eksibisionistik juga dapat diajarkan untuk mematahkan distorsi kognitif yang selama ini mereka gunakan sebagai pembenaran perilaku penyimpangan mereka. Mereka juga dapat diajak untuk belajar keahlian sosial, terutama dalam menjalin relasi sosial dan relasi intim dengan lawan jenis secara sehat. Teknik Rekondisi Orgasmik, juga dapat diperkenalkan. Dimana individu dengan gangguan eksibisionistik diajak untuk menggantikan fantasi seksual eksibisionisme mereka dengan fantasi seksual yang lebih sesuai secara normatif.
Selain itu, terapi kelompok atau dukungan kelompok sosial juga dapat dilakukan. Hal ini dilakukan agar individu dengan gangguan eksibisionistik merasa tidak sendiri dalam menghadapi gangguannya. Mirip dengan langkah-langkah dalam Alcoholic Anonymous (AA), individu dengan eksibisionistik akan didampingi oleh individu yang telah melampaui persoalan terkait dengan gangguan eksibisionistik, harapannya agar mereka bisa bekerjasama untuk membantu individu keluar dari persoalannya.
Terapi psikologis juga dapat dikombinasikan dengan intervensi biologis agar cukup dapat menurunkan tingkat dan frekuensi kambuhnya penyimpangan gangguan eksibisionistik.
  1. Pengobatan dengan hormonal: Obat Antiandrogenic, seperti: medroxyprogesterone dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah, tapi hasrat seksual dikurangi secara signifikan. Diberikan per-oral.
  2. Pengobatan dengan neuroleptik, regulasi serotonin digunakan untuk menghambat perilaku seksual.
·         Phenothizine: Memperkecil dorongan seksual dan mengurangi kecemasan. Diberikan secara oral.
·         Fluphenazine enanthate: Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan seksual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat.
  1. Pengobatan dengan obat penenang (transquilizer): Diazepam dan Lorazepamberguna untuk mengurangi gejala-gejala kecemasan dan rasa takut yang menyertai gangguan parafilia.
Perlu dipahami bahwa pemberian obat-obatan akan diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi seksual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi tambahan untuk pendekatan psikologis.
Berbagai pendekatan psikoterapi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi, karea pada penderita yang datang biasanya memiliki kecemasan.
Referensi
American Psychiatric Association (2000). Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder IV-Text-Revision. Washington: APA.
American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder V. Washington: APA.
Davidson, G.C., Neale, J.M., & Kring, A.M. (2010). Psikologi Abnormal, edisi 9. Jakarta: Rajawali Pers.


Jumat, 17 Maret 2017

Tugas 1 - Psikoterapi

Nama   : Ellisa Ariningtyas
NPM   : 13514510
Kelas   : 3PA11
Tugas matakuliah Softskill Psikoterapi

Pengertian Psikoterapi
            Psikoterapi adalah suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip-prinsip psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran, dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan memecahkan masalah-masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang individu.
            Psikoterapi adalah perawatan dan penyembuhan terhadap gangguan dari pernyakit dengan cara yang lebih psikologis daripada fisiologis maupun biologis. Istilah ini mencakup beberapa macam teknik yang kesemuanya itu dimaksudkan untuk membantu individu yang emosinya terganggu, sehingga mereka dapat mengembangkan cara yang lebih bermanfaat dalam menghadapi orang lain. Terdapat beberapa perbedaan teknik yang digunakan di dalam psikoterapi. Meski demikian, teknik-teknik dalam psikoterapi kebanyakan memiliki ciri yang sama, yaitu adanya komunikasi antara klien (penderita) dengan terapi. Klien didorong untuk dapat mengungkapkan rasa takut, emosi, dan  pengalaman-pengalamannya yang tidak menyenangkan secara bebas tanpa ada rasa takut dan malu dicemooh oleh terapisnya. Di lain pihak, seorang terapis juga harus memiliki simpati dan empati, serta mencoba membantu klien mengembangkan cara efektif untuk menangani masalahnya (Atkinson dkk., 1993).

Aliran Psikoterapi :
1.      Terapi Eksistensial/Humanistik
Dasar dari terapi Humanistik adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Dalam terapi ini para tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam terapi Humanistik ini adalah Terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy.
Metode dalam terapi humanistik adalah menyediakan situasi atau latar tanpa prasangka atau tidak menghakimi untuk mendistribusikan masalah; memanfaatkan empati dan unconditional regard oleh terapis.
Terapi-terapi humanistik-eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa-masa sekarang –“di sini dan kini”—dan bukan pada masa lampau. Tetapi, ada juga kesamaan-kesamaan antara terapi-terapi psikodinamik dan terapi-terapi humanistik-eksistensial, yakni kedua-duanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.
            Contoh kasus :
            Seorang mahasiswa baru berinisial A.D.I kesulitan menyesuaikan diri sebagai mahasiswa. A.D.I, berusia 19 tahun, mahasiswa tingkat 2, mengalami ancaman DO. Dari hasil evaluasi  beberapa semester pertamaternyata nilai dari semua mata kuliah yang di ambilnya tidak memenuhi persyaratan lulus ke tingkat 2.
Seorang teman dari jursan lain N.J memebritahu satu hal dengan tujuan agar A.D.I  bisa mengejar nilainya, dengan belajar yang lebih alkifagartidak terancam DO.
Dari hasil evaluasi 4 mata kuliahnya, 
A.D.I memperoleh beberapa nilai C dan nilai D. Dia sangat menyadari bahwa dia akan sulit untuk mendapat nilai yang baik untukbeberapa mata kuliahnya tersebut.
Kenyataannya ini membuat A.D.I merasa sangat stress, hingga kadang dia merasaingin bunuh diri, karena merasa takut gagal.Dalam pergaulan dengan teman-temannya A.D.I selalu merasa minder. Ketika kuliah di kelas besar, dia selalu memilih duduk di barisan yang paling belakang dan dia jarang bergaul dengan teman-temanseangkatannya. Dia selalu merasa dirinya tertinggal, karena menurutnya A.D.I selalu berpikir negatif tentang dirinya.
Akibatnya A.D.I selalu menyendiri dan lebih senang berada menyendiri dan langsung pulang ke rumah jika selesai kuliah daripada bergaul dengan teman-temannya.A.D.I lebih nyaman ketika masih duduk di bangku SMA, dimana kelasnya lebih kecil dan hubungan di antara siswa di rasakannya lebih akrab.
Di rumah A.D.I, merupakan anak ke 2 dari dua bersaudara (keduanya Lelaki). Kakaknya berusia 2 tahun lebih tua darinya, dan mempunyai prestasi akademis yang cukup “cemerlang” di setiap yang dia lakukan. Walaupun orangtua tidak pernah membandingkan kemampuan ke dua anaknya, tetapi A.D.I merasa bahwa kakaknya mempunyai kelebihan di segala bidang, di bandingkan dengan dirinya.





2.      Terapi Psikoanalisis
Dasa dari terapi psikoanalisi adalah konsep dari Sigmund Freud dan beberapa pengikutnya. Tujuan dari psikoanalisis adalah menyadarkan individu dari konflik yang tidak disadari serta mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang digunakan untuk mengendalikan kecemasan. Apabila motif dan rasa takut yang tidak disadari telah diketahui, maka hal-hal tersebut dapat diatasi dengan cara yang lebih rasional dan realistis.
Dalam bentuknya yang asli, terapi psikoanalisis bersifat intensif dan panjang lebar. Terapis dan klien umumnya betemu selama 50 menit beberapa kali dalam seminggu sampai beberapa tahun. Oleh karena itu agar dapat lebih efisien, maka pertemuan dapat dilakukan dengan pembatasan waktu dan penjadwalan waktu yang tidak terlalu sering (Atkinson dkk., 1993).
            Teknik.
Teknik-teknik dalam Psikoanalisis disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, serta untuk memahami makna dari beberapa gejala. Untuk itu diperlukan teknik-teknik dasar psikoanalisis, yaitu:
a.       Asosiasi Bebas
Asosiasi Bebas merupakan teknik utama dalam psikoanalisis. Terapis meminta klien agar membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari, serta sedapat mungkin mengatakan apa saja yang muncul dan melintas dalam pikiran.
Asosiasi Bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatis masa lalu, yang kemudian dikenal dengan katarsis. Katasis hanya menghasilkan perbedaan sementara atas pengalaman-pengalaman menyakitkan pada klien, tetapi tidak memainkan peran utama dalam proses treatment. (Corey, 1995).

b.      Penafsiran (Interpretasi)
Merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi, dan transferensi. Fungsi dari penafsiran ini adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut.
Cara : dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan, dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan hubungan terapeutik itu sendiri.
c.       Analisis Mimpi
Merupakan prosedur atau cara yang penting untuk mengungkapkan alam bawah sadar dan memberikan kepada klien pemahaman atas area masalah yang tidak terselesaikan.
Cara : selama tidur, pertahanan-pertahanan melemahm sehingga perasaan-perasaan yang direpress akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain. Ferud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tidak disadari. Isi manifes yaitu impian yang tampil pada si pemimpi sebgaiman adanya. Tugas terapis mengungkapkan makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifes.
d.      Resistensi
Merupakan sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengungkapkan bahan yang tidak disadari. Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan sari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari.
e.       Transferensi
Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orang tua kepada terapis.
Contoh : seperti ketika seorang klien menjadi lekat dan jatuh cinta pada terapis sebagai pemindahan dari orangtuanya. Tugas terapis adalah membangkitkan neurosis transferensi klien dengan kenetralan, objektivitas, keanoniman, dan kepasifan yang relatif.
            Contoh kasus :
            Siska 17 tahun, kelas XII merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Ayahnya adalah seorang nahkoda kapal pesiar ternama di Riau, sedangkan ibunya sudah lama meninggal saat berprofesi menjadi pramugari dan pesawatnya kecelakaan meledak di udara, saat itu usia Siska 3,5 tahun. Siska dirumah hanya tinggal dengan pembantu dan tukang kebun, karena saudaranya sudah berkeluarga dan sekarang memiliki rumah sendiri. Kejadian masa lalu membuat Siska sering bertingkah aneh, Siska tidak pernah mau jika satu kelompok belajar dengan laki2. Dan setiap melihat laki2 dirinya merasakan ingin melemparkan sesuatu ke wajah laki2 tersebut. dan yang membuatnya khawatir adalah pada usia 17 tahun dirinya sama sekali belum tertarik atau simpatik kepada laki2.




3.      Terapi Perilakuan
Terapi perilakuan mencakup sejumlah metode terapi yang berbeda-beda yang kesemuanya itu didasakan kepada teori-teori belajar. Para ahli behaviorist beranggapan bahwa perilaku maladaptif merupakan cara untuk menanggulangi stres yang sudah “terbiasa” pada diri seseorang, sehingga beberapa teknik perilakuan yang dikembangkan dalam percobaan dapat digunakan untuk menggantikan respons maladaptif tersebut dengan respon baru yang lebih tepat. Jika terapis psikoanalis berkaitan dengan pemahaman konflik masa lalu, maka terapi perilakuan lebih memusatkan langsung kepada perilaku itu sendiri (Atkinson dkk., 1993).
            Terapi dengan pendekatan teori behavior adalah teori yang mengaplikasikan konsep belajar dalam bidang psikoterapi. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa teori behavior selaras dengan adat penyakit kejiwaan yang menjadi satu kebiasaan yang didapatkan dari proses pembelajaran. Dari sini maka terapinya adalah dengan mengubah kebiasaan tersebut atau kembali kepada titik awal proses pembelajaran.
           
Contoh kasus :
Jono baru saja beranjak dari SMP menuju SMA. Ia masuk ke SMA yang terkenal sebagai SMA yang dihuni oleh orang-orang kelas atas. Padahal ia berasal dari keluarga yang tergolong menengah kebawah. Awalnya orang tua Jono tidak memperbolehkan Jono masuk kesekolah tersebut karena takut Jono terpengaruh gaya hidup mereka. Namun paksaan Jono yang yang sedemikian rupa membuat orang tuanya luluh juga.
Setelah beberapa lama berada disekolah itu, Jono seperti mengalami diskriminasi karena ia tidak pernah mau untuk ikut bermain dengan teman-temannya saat ia diajak. Sedikit demi sedikit, Ia mulai merasa dikucilkan. Awalnya, ia tidak terpengaruh. Namun lama kelamaan, ia mulai merasa kesepian. Bahkan, teman-temannya senang sekali mengerjai Jono. Perilaku teman-temannya mulai membuat Jono tidak fokus. Prestasi belajar mulai menurun. Ini membuat Jono selalu stress.
Keadaan seperti ini mulai mengubah Jono. Jono yang selama ini selalu rendah hati mulai merasa harus seperti teman-temannya. Akhirnya muncul juga keinginan untuk bermain dengan teman-teman. Ia mencuri uang orang tuanya untuk bisa berpenampilan seperti teman-temannya. Keadaan hidup seperti ini membuat ia tak nyaman. Ia ingin sekali tidak seperti ini, namun itu hanya tinggal keinginan saja. Ketakutan akan dikucilkan membuat ia tetap menjalankan kebiasaan buruk ini.




Daftar Pustaka :
Dwi Riyanti, B.P. dan Hendro Prabowo.(1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Gunadarma
Taufiq, Muhammad Izzuddin.(2006). Panduan lengkap&praktis psikologi islam. Jakarta: Gema Insani

Semiun, Yustinus.(2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius

Selasa, 24 Januari 2017

Analisis Kasus Sumber Daya Manusia – Tugas Softskill Psikologi Manajemen

Nama   : Ellisa Ariningtyas
NPM   : 13514510
Kelas   : 3PA11
Universitas Gunadarma

Kasus
Ricuh Pemangkasan Karyawan Bank Danamon
JAKARTA, GRESNEWS.COM - Di tengah terik matahari sekitar 500 pegawai Bank Danamon melakukan longmarch dari bundaran tugu tani menuju Gedung Menara Danamon di Jalan Rasuna Sa'id, Jakarta Selatan, kemarin. Mereka memprotes perlakuan manajemen Bank Danamon yang dianggap sewenang-wenang terhadap karyawannya. Mereka menuding manajemen Bank Danamon telah melanggar UU Ketenagakerjaan, karena memutuskan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sejumlah karyawannya.

Abdoel Moejib ketua Serikat Pekerja (SP) Danamon mengungkapkan bahwa Demo dilakukan setelah berbagai macam upaya dialog dan pertemuan resmi dengan pihak Manajemen tak memperoleh titik temu. Pihaknya bahkan telah meminta bantuan Pengadilan Penyelesaian Hubungan Industri (PPHI) untuk menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan di Danamon.

"Sayangnya Manajemen tidak bergeming," ujar Abdoel Moejib di sela sela unjuk rasa, Jumat (28/10).

Dalam demo itu, SP Danamon mengajukan 10 tuntutan, dalam Sepultura Danamon. Antara lain meminta manajemen Danamon menghentikan PHK masal, menghentikan training cara PHK karyawan, menolak bentuk outsourcing dan pengurangan iuran dana pensiun.
Abdoel mengungkapkan selama ini hubungan Sp dengan pihak Danamon bisa dibilang tidak menunjukkan hubungan industrial yang harmonis. Fungsi balancing yang diharapkan menjadi peran SP terhadap manajemen belum berjalan seperti seharusnya. Sebab manajemen tidak menempatkan SP sebagai mitra yang setara, dimana setiap pengambilan keputusan ketenagakerjaan pihak SP tidak dilibatkan secara optimal. Akibatnya putusan yang dihasilkan selalu mengecewakan dan memancing amarah pekerja.

Menurutnya beberapa kebijakan yang menyentuh langsung ke kesejahteraan karyawan sama sekali tidak dikomunikasikan ke SP. Kesejahteraan secara gradual dikurangi, termasuk soal penilaian prestasi. Banyak karyawan yang mempunyai kinerja serta prestasi yang bagus tetapi tetap dinilai buruk sehingga berdampak ribuan karyawan tidak naik gaji dan mendapatkan bonus sesuai ketentuan. "Penilaian tersebut juga membuat 10 ribu karyawan di PHK dalam 3 tahun terakhir," ujarnya.

Setelah aksi selama 2 jam, ada informasi perwakilan SP dipanggil masuk ke dalam gedung menara Danamon oleh manajemen untuk melakukan negosiasi. Tetapi sampai di dalam para perwakilan SP merasa ditipu, pasalnya setelah mendatangi lantai 15. Pihak manajemen sama sekali tidak menemui perwakilan SP dan negosiasi yang dijanjikan tidak pernah ada.

"Kami dibohongi, tak ada konfirmasi apa pun dan tak ada yang menemui kami di atas," ungkap Muhammad Afif, selaku Sekjen SP Danamon kepada gresnews.com di depan gedung menara Danamon,Jumat (28/10).

Setelah pihak Manajemen tidak menggubris aksi mereka, maka pada tanggal 10 November mereka mengancam akan melakukan aksi dalam jumlah massa yang lebih besar. Sebab mereka merasa Danamon telah memperlakukan mereka secara tidak manusiawi, padahal Danamon diketahui untung lebih dari Rp2,5 triliun, tetapi menganggap 30 persen karyawannya tak bisa bekerja melalui penilaian kinerja yang tak masuk akal.

"Sudah tidak ada jalan lain, maka aksi 10 November adalah harga mati. Semoga otoritas ikut turun tangan" tegasnya.

Analisis Kasus :
Dalam kasus ini manajemen Danamon dianggap telah melakukan PHK masal dan emo yang dilakukan karyawan saat itu adalah menuntut antara lain meminta manajemen Danamon menghentikan PHK masal, menghentikan training cara PHK karyawan, menolak bentuk outsourcing dan pengurangan iuran dana pensiun. Selain itu juga banyak karyawan yang mempunyai kinerja serta prestasi yang bagus tetapi tetap dinilai buruk sehingga berdampak ribuan karyawan tidak naik gaji dan mendapatkan bonus sesuai ketentuan. "Penilaian tersebut juga membuat 10 ribu karyawan di PHK dalam 3 tahun terakhir. Menurut pendapat saya pihak manajemen terutama SDM, harus lebih mementingkan kesejahteraan  karyawannya dan memberikan apa yang seharusnya diberikan sesuai dengan kerja keras karyawan dan juga pengambilan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan harus melibatkan dan di setujui oleh semua pihak yang terkait. Pihak manajemen Danamon juga seharusnya lebih membuka diri dan mencari solusi dari masalahnya tanpa melakukan PHK.


Selasa, 17 Januari 2017

Psikologi Manajemen - Meningkatkan Kinerja Karyawan (Gunadarma)

Nama   : Ellisa Ariningtyas     
NPM   : 13514510
Kelas   : 3PA11

Meningkatkan Kinerja Karyawan

Kinerja seorang karyawan merupakan hal yang bersifat individual, karena setiap karyawan mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda - beda dalam mengerjakan tugasnya. Pihak manajemen dapat mengukur karyawan atas unjuk kerjanya berdasarkan kinerja dari masing - masing karyawan.
Kinerja adalah sebuah aksi, bukan kejadian. Aksi kinerja itu sendiri terdiri dari banyak komponen dan bukan merupakan hasil yang dapat dilihat pada saat itu juga.
Pada dasarnya kinerja merupakan sesuatu hal yang bersifat individual, karena setiap karyawan memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Kinerja tergantung pada kombinasi antara kemampuan, usaha, dan kesempatan yang diperoleh.
Hal ini berarti bahwa kinerja merupakan hasil kerja karyawan dalam bekerja untuk periode waktu tertentu dan penekanannya pada hasil kerja yang diselesaikan karyawan dalam periode waktu tertentu.
Berdasarkan keterangan di atas dapat pula diartikan bahwa kinerja adalah sebagai seluruh hasil yang diproduksi pada fungsi pekerjaan atau aktivitas khusus selama periode khusus. Kinerja keseluruhan pada pekerjaan adalah sama dengan jumlah atau rata - rata kinerja pada fungsi pekerjaan yang penting.
Fungsi yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut akan dilakukan dan tidak dilakukan dengan karakteristik kinerja individu.
Kinerja yang tinggi dapat tercapai oleh karena kepercayaan (trust) timbal balik yang tinggi di antara anggota - anggotanya artinya para anggota mempercayai integritas, karakteristik, dan kemampuan setiap anggota lain.
Untuk mencapai kinerja yang tinggi memerlukan waktu lama untuk membangunnya, memerlukan kepercayaan, dan menuntut perhatian yang seksama dari pihak manajemen.


Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
1.      Kinerja baik dipengaruhi oleh dua faktor :
a.       Internal (pribadi)
-          Kemampuan tinggi
-          Kerja keras
b.       Eksternal (lingkungan)
-          Pekerjaan mudah
-          Nasib baik
-          Bantuan dari rekan – rekan
-          Pemimpin yang baik
2.       Kinerja jelek dipengaruhi dua faktor :
a.       Internal (pribadi)
-          Kemampuan rendah
-          Upaya sedikit
b.      Eksternal (lingkungan)
-          Pekerjaan sulit
-          Nasib buruk
-          Rekan - rekan kerja tidak produktif
-          Pemimpin yang tidak simpatik

Cara - Cara untuk Meningkatkan Kinerja
1.      Diagnosis
Suatu diagnosis yang berguna dapat dilakukan secara informal oleh setiap individu yang tertarik untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengevaluasi dan memperbaiki kinerja. Teknik - tekniknya : refleksi, mengobservasi kinerja, mendengarkan komentar - komentar orang lain tentang mengapa segala sesuatu terjadi, mengevaluasi kembali dasar - dasar keputusan masa lalu, dan mencatat atau menyimpan catatan harian kerja yang dapat membantu memperluas pencarian manajer penyebab - penyebab kinerja.
2.      Pelatihan
Setelah gaya atribusional dikenali dan dipahami, pelatihan dapat membantu manajemen bahwa pengetahuan ini digunakan dengan tepat.
3.      Tindakan

Tidak ada program dan pelatihan yang dapat mencapai hasil sepenuhnya tanpa dorongan untuk menggunakannya. Analisa atribusi kausal harus dilakukan secara rutin sebagai bagian dari tahap - tahap penilaian kinerja formal.

Selasa, 10 Januari 2017

Psikologi Manajemen - Perencanaan dan Pengembangan Karir (Universitas Gunadarma)

Nama   : Ellisa Ariningtyas
NPM   : 13514510
Kelas   : 3PA11

Psikologi Manajemen – Perencanaan dan Pengembangan Karir

Pengertian Perencanaan Karir
Perencanaan karier terdiri atas dua suku kata, yaitu perencanaan dan karier. Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Karier adalah semua jabatan atau pekerjaan yang dimiliki atau dipegang selama kehidupan kerja seseorang. Orang-orang mengejar karier untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu secara mendalam.
Perencanaan karier (career planning) adalah suatu perencanaan tentang kemungkinan seorang karyawan suatu organisasi atau perusahaan sebagai individu meniti proses kenaikan pangkat atau jabatan sesuai persyaratan dan kemampuannya. Yaitu suatu proses dimana individu dapat mengidentifikasi dan mengambil langkah-langkah untuk tujuan-tujuan kariernya.
Pengertian Pengembangan Karir
Pengembangan karier merupakan implementasi dari perencanaan karier. Untuk itu pengembangan karier dapat didefinisikan sebagai semua usaha pribadi karyawan yang ditujukan untuk melaksanakan rencana kariernya melalui pendidikan, pelatihan, pencarian dan perolehan kerja, serta pengalaman kerja.
Tujuan dan Manfaat Perencanaan dan Pengembangan Karir
1.    Persamaan karier (career equity). Karyawan menginginkan adanya kesamaan di dalam        sistem promosi dan kesempatan memajukan karier.
2.    Masalah pengawasan (supervisory consern).
3.    Kesadaran akan adanya kesempatan (aware ness of opportunity).
4.    Minat karyawan (employment interest).
5.    Kepuasan karir (career statisfaction).

Tujuan Perencaan Karir
1.    Meluruskan strategi dan syarat-syarat karyawan intern (aligns strategy and internal staffing).
2.    Mengembangkan karyawan yang dapat dipromosikan (develops promotable employees).
3.    Memudahkan penempatan ke luar negeri (facilitates international placement).
4.    Membantu di dalam keanekaragaman tenaga kerja (assists with workforce diversity).
5.    Mengurangi pergantian (lower turnover).
6.    Menyaring potensi karyawan (taps employee potential).
7.    Meneruskan pertumbuhan pribadi (furthers personal growth).
8.    Mengurangi penimbunan (reduce hearding).
9.    Memuaskan kebutuhan karyawan (satisfies employee needs).

Tujuan Pengembangan Karir
Andrew J. Dubrin (1982) menguraikan sejumlah tujuan pengembangan karir yang dijabarkan sebagai berikut:
1.        Membantu pencapaian tujuan individu dan perusahaan.
2.        Menunjukkan hubungan kesejahteraan pegawai.
3.        Memperkuat hubungan antara pegawai dan perusahaan.
4.        Membuktikan tanggung jawab sosial.
5.        Membantu memperkuat pelaksanaan program-program.
6.        Mengurangi turnover (pergantian karyawan karena mengundurkan diri).
7.        Mengurangi keusangan profesi dan manajerial.
8.        Menggiatkan analisis dari keseluruhan pegawai.
9.        Menggiatkan pemikiran (pandangan) jarak waktu yang panjang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perencanaan Karir
Beberapa faktor yang mempengaruhi perencanaan karier, antara lain:
1.     Tahap kehidupan karier.
2.     Dasar karier atau jangkar karier.
Ada lima perbedaan motif dasar karir yang menjelaskan jalan bagi orang-orang untuk memilih dan mempersiapkan karirnya, di mana mereka menyebutnya sebagai jangkar karir (career anchors), antara lain:
a)        Kemampuan manajerial.
b)        Kemampuan fungsional-teknis.
c)        Keamanan.
d)        Kreativitas.
e)        Otonomi dan kebebasan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Karir
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengembangan karier, antara lain:
1.        Hubungan Pegawai dan Organisasi.
2.        Personalia Pegawai.
3.        Faktor Eksternal.
4.        Politicking Dalam Organisasi.
5.        Sistem Penghargaan.
6.        Jumlah Pegawai.
7.        Ukuran Organisasi.
8.        Kultur Organisasi.
9.        Tipe Manajement
Unsur-unsur Program Perencanaan Karir
1.        Penilaian individu tentang kemampuan, minat, kebutuhan karir dan tujuan.
2.        Penilaian organisasi tentang kemampuan dan kesanggupan pegawai.
3.  Komunikasi informasi mengenai kebebasan memilih dan kesempatan karir pada  organisasi.
4.   Penyuluhan karir untuk menentukan tujuan-tujuan realistik dan rencana untuk            pencapaiannya.

Unsur-unsur Program Pengembangan Karir
      1.      Membantu pegawai dalam menilai kebutuhan karier internnya sendiri.
      2.      Mengembangkan dan mengumumkan memberitahukan kesempatan-kesempatan karier             yang ada dalam organisasi.

3.      Menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan pegawai dengan kesempatan-kesempatan              karier.